“Sang Raja Kebenaranâ€
Peringatan datang padanya,
peringatan akan suatu keterpurukan norma.
Ia mencambuk hatinya dengan kata,
Ia memasung liang mulutnya dengan kata,
Ia merampas nafasnya yang kian tersengau dengan kata,
Ia ludahi segala keterpurukan normanya dengan kata,
Ia membunuh jiwanya dengan kata,
Ia menelanjanginya dengan kata.
Dengan kata ia mampu menghukumnya,
menghukum tanpa bertanya kepada Sang Raja Penguasa,
Raja penguasa yang telah menghadirkan nafas untuknya,
nafas yang hanya ia habiskan untuk membinasakan dan membunuh kaumnya.
Kaum yang hanya menjadi keegoisannya dalam menilai suatu kebenaran,
kebenaran yang sebenarnya tak pernah ia kenal.
Jangan nistakan dan jangan katakan dosa jika itu adalah suatu ketulusan
Biarkan Sang Raja bernilai yang menilai
Tiada nista dari beningnya sungai Nil
dan tiada dosa dari bayi si pelacur.