Tentangmu kan kurangkai dalam bunga rampai
di awal cerita yang mana aku dapat memulai?
di penghujung waktu yang mana kan kuakhiri
tapi, kuingin dirimu abadi di hati
dan tak ingin semuanya usai
Nasya...!
itulah nama yang engkau miliki
terlahir dari rahim sang ibu sejati
terpilih lahir hiasan di bulan Mei
kala itu hingga kini
hadirmu jadi permata hati
Nasya...!
Sayap-sayapmu makin lincah arungi sang hari
jauh sudah langkahmu di atas lintas warna-warni
hentakan suka dan duka tentu banyak kau alami
Hari ini kau masih bertemu sang mentari
tajamnya ragam silau janganlah peduli
pedih perihnya pun pasti kan terlewati
semuanya hadir sebagai ujian keteguhan hati
"Nasya...",
itulah "Najma sayang" selalu kurindui
sapaan itu amat indah yang pernah kutemui
terbit dari binaran kasih yang kupahami
disanalah kemilau cinta amat dalam kuselami
Karena salahku,
kau pun sakit hati
aku pun tak lagi kau yakini
diantara kita berbentang dinding yang tinggi
kucoba mendaki,
tapi dirimu tak bersemangat lagi
Akankah kisah kita mestinya bertepi?
tak adakah untukku berbenah diri?
aku tegas berlari meski di atas berduri
catatan-catatannya pun akan kuhayati
Mungkinkah di saat nanti dirimu nyata kumiliki?
aku tak perduli...!
Biarkan aku menjadikanmu puisi dan pelita jiwa ini
indahmu kan kunikmati
meski hanya lewat indahnya taman bunga bersemi
Nasya...!
Pucuk-pucuk hidup tumbuh silih berganti
terbanglah bebas dan gapailah impian dengan pasti
tetap tegarlah dan jangan pernah terhenti
jangan redup senyummu sebagai tanda hidupmu selalu damai